Selasa, 18 Oktober 2016

Sikap Guru Terhadap Proses Pembelajaran



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Dalam rangka meningkatkan kemampuan pendidik, mereka harus memiliki dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi mereka sebagai pengajar. Kenyataan yang ada, kurikulum yang selama ini diajarkan di sekolah menengah kurang mampu mempersiapkan siswa untuk masuk ke perguruan tinggi. Kemudian kurangnya pemahaman akan pentingnya relevansi pendidikan untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan budaya, serta bagaimana bentuk pengajaran untuk siswa dengan beragam kemampuan intelektual.
Jerome S. Bruner, seorang peneliti terkemuka, memberikan beberapa gambaran tentang perlunya teori pembelajaran untuk mendukung proses pembelajaran di dalam kelas, serta beberapa contoh praktis untuk dapat menjadi bekal persiapan profesionalitas para guru.
Berdasarkan penelitian selama beberapa tahun terakhir, cukup jelas bagi saya (Jerome S.Bruner), bahwa dari segi psikologis dan dari desain kurikulum itu sendiri, sangatlah minim dibahas tentang teori pembelajaran. Teori pembelajaran yang sudah ada selama ini, hanya terfokus pada kepentingan teoritis semata. Sebagai contoh, pada saat membahas tentang teori perkembangan, seorang anak tidak diajarkan pengaruhnya terhadap tantangan sosial dan bagaimana pengalaman nyata yang nantinya akan dialami anak ketika berada di masyarakat. Masih banyak contoh-contoh lain, bagaimana sebuah teori pembelajaran tidak menyentuh aspek sosial dari murid, dan hal ini merupakan bentuk pembodohan secara intelektual dan tidak memiliki tangung jawab moral.
Dari permasalahan di atas, kita menyadari bahwa, sebuah teori pembelajaran sebaiknya juga menyangkut suatu praktek untuk membimbing seseorang bagaimana caranya ia memperoleh pengetahuan dan keterampilan, pandangan hidup, serta pengetahuan akan kebudayaan masyarakat sekitarnya. Akan hal itu, mari kita susun beberapa teorema yang memungkinkan, yang mungkin akan membawa kita kepada sebuah teori pembelajaran yang baik.
Apa yang dimaksud dengan teori pembelajaran? Penulis akan mencoba menguraikan beberapa teorema untuk memisahkan apa yang dimaksud dengan teori pembelajaran dari teori-teori yang sudah ada selama ini.  Nature dari teori pembelajaran adalah prescriptive, bukan deskriptif. Teori tersebut memiliki tujuan untuk menghasilkan akhir yang luar biasa dan proses menghasilkannya melalui cara yang kita sebut optimal. Itu bukan sebuah deskripsi tentang apa yang terjadi saat proses belajar terjadi-itu adalah sesuatu yang normatif, yang memberikan sesuatu yang mengena pada dirimu, dan pada akhirnya, harus memberikan suatu catatan mengenai dirimu pada saat kamu memberikan pembelajaran di dalam kelas.
Teori belajar adalah teori yang mendeskripsikan apa yang sedang terjadi saat proses belajar berlangsung dan kapan proses belajar tersebut berlangung. Tidak ada batasan yang jelas, bagaimana seseorang yang mengandalkan teori belajar dapat mengambil intisari yang tepat yang akan membimbing dia pada saat menyusun kurikulum. Ketika saya mengatakan bahwa teori pembelajaran itu prescriptive, yang saya maksud adalah suatu yang ada sebelum adanya fakta. Itu adalah sesuatu yang ada sebelum proses belajar terjadi, bukan ketika, dan bukan setelahnya.
Teori pembelajaran harus mampu menghubungkan antara hal yang ada sekarang dengan bagaimana menghasilkan hal tersebut. Teori belajar menjelaskan dengan pasti apa yang terjadi, namun teori pembelajaran ’hanya’ membimbing apa yang harus dilakukan untuk menghasilkan hal tersebut.
Ada 4 hal yang terkait dengan teori pembelajaran:
1. teori pembelajaran harus memperhatikan bahwa terdapat banyak kecenderungan cara belajar siswa, dan kecenderungan ini sudah dimiliki siswa jauh sebelum ia masuk ke sekolah.
2. teori ini juga terkait dengan adanya struktur pengetahuan. Ada 3 hal yang terkait dengan struktur pengetahuan:
a. struktur pengetahuan harus mampu menyederhanakan suatu informasi yang sangat luas
b. struktur tersebut harus mampu membawa siswa kepada hal-hal yang baru, melebihi informasi yang anda jelaskan
c. struktur pengetahuan harus mampu meluaskan cakrawala berpikir siswa, mengkombinasikannya dengan ilmu-ilmu lain.
3. teori pembelajaran juga terkait dengan hubungan yang optimal. Seorang guru harus mampu mencari hubungan yang mudah tentang sesuatu yang akan diajarkan agar murid lebih mudah menangkap informasi tersebut.
4. yang terakhir, teori pembelajaran terkait dengan penghargaan dan hukuman.
Berdasarkan paparan umum diatas, pada bab II makalah ini akan dibahas tentang teori Pembelajaran Perspektif.
B.     Rumusan masalah
1.      Kurangnya sikap baik Guru dalam pembelajaran.
2.      Kurangnya interaksi antara Guru dan siswa.

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui sikap baik guru dan pembelajaran.
2.      Untuk mengetahui interaksi antara guru dan siswa.










Bab II
Kajian Teori

A.     Pengertian Teori Belajar dan Pembelajaran
Menurut W.H Burton belajar adalan proses perubahan tingkah laku pada diri individu, sedangkan menurut Skinner belajar adalah suatu perilaku yang memberikan respon yang baik pada individu. Sehingga dapat disimpulkan belajar adalah segala perilaku yang memberikan perubahan baik pada individu.
Menurut Winkel Pembelajaran adalah seperangkat tindakan untuk mendukung proses belajar individu, sedangkan menurut Gagne pembelajaran adalah pengaturan peristiwa yang membuat belajar menjadi berhasil guna mendukung proses belajar. Sehingga dapat disimpulkan pembelajaran adalah tindakan yang mendukung proses belajar.
Bruner mengemukakan bahwa teori pembelajaran adalah preskriptif dan teori belajar adalah deskriptif.Preskriptif karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal, dan deskriptif karena tujuan utama teori belajar adalah memerikan proses belajar.
Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan di antara variabel-variabel yang menentukan hasil belajar, atau bagaimana seseorang belajar.Teori pembelajaran menaruh perhatian pada bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain agar terjadi hal belajar, atau upaya  mengontrol variabel-variabel yang dispesifikasi dalam teori belajar agar dapat memudahkan belajar.

B.     Belajar Deskriptif dan Preskriptif
Ada beberapa pendapat tentang  teori belajar deskriptif dan preskriptif yaitu :
1. Menurut Bruner
      Teori pembelajaran adalah preskriptif dan teori belajar adalah deskriptif. Preskriptif karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal, sedangkan deskriptif karena tujuan utama teori belajar adalah menjelaskan proses belajar.
2.    Menurut Reigeluth
      Teori preskriptif adalah goal oriented, sedangkan teori deskriptif adalah goal free. Maksudnya adalah bahwa teori pembelajaran preskriptif dimaksudkan untuk mencapai tujuan, sedangkan teori pembelajaran deskriptif dimaksudkan untk memberikan hasil.
      Pembedaan teori belajar (deskriptif) dan pembelajaran (preskriptif)  dikembangkan oleh Bruner, lebih lanjut oleh Reigeluth (1983), Gropper (1983), dan Landa (1983).
Menurut Reigeluth (Degeng, 1990) teori-teori dan prinsip pembelajaran yang deskriptif menempatkan variabel kondisi dan metode pembelajaran sebagai givens dan memberikan hasil pembelajaran sebagai variabel yang diamati. Dengan kata lain kondisi dan metode pembelajaran sebagai variabel bebas dan hasil pembelajaran sebagai variabel tergantung.
      Sebaliknya dalam teori-teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang preskriptif menempatkan kondisi dan hasil sebagai givens sedangkan metode yang optimal ditetapkan sebagai variabel yang bisa diamati.  Jadi metode pembelajaran sebagai variabel tergantung. Menurut Reigeluth bahwa Teori preskriptif adalah goal oriented, sedangkan teori deskriptif adalah goal free (Budiningsih, 2005: 11). Artinya teori pembelajaran preskriptif adalah untuk mencapai tujuan, sedangkan teori pembelajaran deskriptif dimaksudkan untuk memerikan hasil.
      Bruner (Budiningsih, 2005: 11) mengemukakan bahwa teori pembelajaran adalah perspektif dan teori belajar adalah deskriptif. Perspektif karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal, sedangkan teori belajar bersifat deskritif karena tujuan utama teori belajar adalah menjelaskan proses belajar. Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan aantara variable-variabel yang menentukan hasil belajar. Sedangkan teori pembelajaran sebaliknya teori ini menaruh perhatian pada bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain agar terjadi proses belajar. Dengan kata lain teori pembelajaran berurusan dengan upaya mengontrol variable yang dispesifikasikan dalam teori belajar agar dapat memudahkan belajar.  Dengan kata lain, kondisi dan metode pembelajaran sebagai variable bebas dan hasil pembelajaran sebagai variable tergantung. 
      Maksudnya adalah bahwa teori pembelajaran perspektif dimaksudkan untuk mencapai tujuan, sedangkan teori belajar deskriptif dimaksudkan untuk memberikan hasil. Itulah sebabnya variable yang diamati dalam mengembangkan teori belajar yang perspektif adalah metode yang optimal untuk mencapai tujuan, sedangkan dalam pengembangan teori pem,belajaran deskriptif, variable yang diamati adalah hasil belajar sebagai akibat dari interaksi antara metode dan kondisi. Dengan kata lain teori pembelajaran mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan proses psikologis dalam diri siswa, sedangkan teori belajar mengungkapkan hubungan antara kegiatan siswa dengan proses psikologi dalam diri siswa.
      Teori pembelajaran harus memasukkan variable metode pembelajaran.  Bila tidak, maka teori itu bukanlah teori pembelajaran. Hal ini penting sebab banyak yang terjadi apa yang dianggap sebagai teori pembelajaran yang sebenarnya adalah teori belajar. Teori pembelajaran selalu menyebutkan metode pembelajaran sedangkan teori belajar sama sekali tidak berurusan dengan metode pembelajaran.
Sehingga dapat kita simpulkan beberapa poin tentang teori deskriptif dan preskriptif yaitu:
1.) Teori belajar adalah deskriptif karena tujuan utamanya menjelaskan proses belajar, sedangkan teori pembelajaran adalah preskriptif karena tujuan utamanya menetapkan metode pembelajaran yang optimal
2.) Teori pembelajaran preskriptif dimaksudkan untuk mencapai tujuan, sedangkan teori pembelajaran deskriptif dimaksudkan untuk memberikan hasil. itulah sebabnya, variabel yang diamati dalam teori-teori pembelajaran yang preskriptif adalah metode yang optimal untuk mencapai tujuan
3.) Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan diantara variabel-variabel yang menentukan hasil belajar, atau bagaimana seseorang belajar.
4.) Teori pembelajaran menaruh perhatian pada bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain agar terjadi hal belajar, atau upaya mengontrol variabel-variabel yang dispesifikasi dalam teori belajar agar dapat memudahkan belajar
5.) Teori perspektif adalah goal oriented (untuk mencapai tujuan), sedangkan teori deskriptif goal free (untuk memerikan hasil).

C.    Perbedaan Teori Deskriptif dan Preskriptif   
Asri Budiningsih (2004) dalam buku Belajar dan Pembelajaran menjelaskan bahwa upaya dari Bruner untuk membedakan antara teori belajar yang deskriptif dan teori pembelajaran yang perspektif dikembangkan lebih lanjut oleh Reigeluth.teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang deskriptif menempatkan variable kondisi dan metode pembelajaran sebagai givens dan menempatkan hasil belajar sebagai varibael yang diamati. Dengan kata lain, kondisi dan metode pembelajaran sebagai variable bebas dan hasil pembelajaran sebagai variable tergantung.
Reigeluth (1983 dalam degeng ,1990) mengemukakan bahwa teori perspektif adalah goal oriented sedangkan teori deskriptif adalah goal free. Maksudnya adalah bahwa teori pembelajaran perspektif dimaksudkan untuk mencapai tujuan, sedangkan teori belajar deskriptif dimaksudkan untuk memberikan hasil. Itulah sebabnya variable yang diamati dalam mengembangkan teori belajar yang perspektif adalah metode yang optimal untuk mencapai tujuan, sedangkan dalam pengembangan teori pem,belajaran deskriptif, variable yang diamati adalah hasil belajar sebagai akibat dari interaksi antara metode dan kondisi.
Dengan kata lain teori pembelajaran mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan proses psikologis dalam diri siswa, sedangkan teori belajar mengungkapkan hubungan antara kegiatan siswa dengan proses psikologis dalam diri siswa.
Teori pembelajaran harus memasukkan variable metode pembelajaran. Bila tidak, maka teori itu bukanlah teori pembelajaran. Hal ini penting sebab banyak yang terjadi apa yang dianggap sebagai teori pembelajaran yang sebenarnya adalah teori belajar. Teori pembelajaran selalu menyebutkan metode pembelajaran sedangkan teori belajar sama sekali tidak berurusan dengan metode pembelajaran.
Perbedaan teori deskriptif dan teori preskriptif di atas membawa konsukuensi pada perbedaan proporsisi untuk kedua teori tersebut.
Proporsisi untuk perbandingan teori tersebut contohnya adalah:
Teori deskriptif: 
Bila isi/materi pelajaran (kondisi) diorganisasi dengan menggunakan metode elaborasi (metode), maka perolehan belajar dan retensi (hasil) akan meningkat.
Jika membuat rangkuman tentang isi buku teks yang dibaca, maka retensi terhadap isi buku teks itu akan lebih baik.
Teori preskriptif: 
Agar perolehan belajar dan retensi (hasil) meningkat, organisasilah isi/materi pelajaran (kondisi) dengan menggunakan model elaborasi (metode).
Agar dapat mengingat isi buku teks yang dibaca secara lebih baik, maka bacalah isi buku teks itu berulang-ulang dan buatlah rangkumannya.

 Kelebihan, Kekurangan Teori Deskriptif dan preskriptif
1.Kelebihan dari teori belejar deskriptif adalah lebih terkonsep sehingga siswa lebih
memahami materi yang akan disampaikan. mendorong siswa untuk mencari sumber pengetahuan sebanyak-banyaknya dalam mengerjakan suatu tugas.
2. Kelebihan dari teori preskriptif yaitu lebih sistematis sehingga memiliki arah dan tujuan yang jelas. banyak member motivasi agar terjadi proses belajar. mengoptimalisasikan kerja otak secara maksimal.
3. Kekurangan untuk teori deskriptif adalah kurang memperhatikan sisi psikologis siswa dalam mendalami suatu materi.
4. Kekuranagan dari teori balajar preskriptif yaitu membutuhkan waktu cukup lama.

D.    Penerapan Teori Belajar Deskriptif dan Preskriptif
      Bruner mengemukakan bahwa teori belajar adalah deskriptif karena tujuan utamanya menjelaskan proses belajar  dan teori belajar menaruh perhatian pada hubungan di antara variabel-variabel yang menentukan hasil belajar. Sedangkan teori pembelajaran
adalah preskriptif karenatujuan utamanya menetapkan metode pembelajaran yang optimal dan teori pembelajaran menaruh perhatian bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain agar terjadi proses belajar.


















Bab III
Pembahasan

A.    Sikap baik Guru dalam pembelajaran
      Telah kita ketahui bahwa preoses pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai factor. Factor guru, kurikulum, tujuan yang ingin dicapai, sarana, lingkungan, dan siswa itu sendiri. Dari sekian banyak factor ini, factor guru mempunyai peranan yang lebih menentukan daripada factor yang lain tanpa mengurangi factor kondisi siswa yang dihadapi.
      Disamping perencanaan guru yang memadai untuk peleksanaan pembelajaran, keberhasilan pembelajaran dipengaruhi oleh sikap guru dalam mengelola pembelajaran, keterampilan guru mengajukan pertanyaan, pengetahuan guru dan keterampilannya dalam menggunakan media, dan masih banyak factor pendukung lain yang dapat mendorong terjadinya proses belajar yang lebih baik.
1.      Sikap guru dalam pembelajaran
      Didalam proses pembelajaran, seorang guru dikatakan baik apabila hasil pembelajaran yang dicapai sesuai dengan tujuan pendidikan. Dengan kata lain, seorang guru yang efektif adalah bila guru berhasil membawa anak didik menjadi manusia yang memiliki ketakwaan kepada Tuhan, memiliki kepribadian, mampu mengikuti perkembangan, terampil, dinamis, dan kreatif dengan tidak melepaskan diri dari dasar-dasar untuk kepentingan bangsa, negara, dan Tanah Air pada situasi apapun.
      Guru yang baik memiliki sikap yang baik yang dapat digunakan sebagai contoh, sebagai model bagi para siswa yang dihadapinya.
a.       Sikap ilmiah dan pengembangannya
            Salah satu masalah jika kita membahas soal sikap adalah dalam menentukan terminalogi yang digunakan, karena para ahli yang berlatar belakang berbeda memiliki pengetahuan berbeda. Beberapa pengertian  sikap diantaranya:
1). Kecendrungan menyenangi atau sebaliknya membenci suatu objek tertentu;
2). Besarnya respons;
3). Ide yang dikendalikan oleh emosi
            Ditilik dari berbagai defenisi tersebut diatas, sikap tersebut mengandung komponen pengetahuan (kognitif), perasaan (afektif), dan kecendrungan berbuat (konatif). Ketiga komponen tersebut terikat satu sama lain. Ada sikap yang lebih didominasi oleh komponen kognitif.
            Perkembangan sikap seseorang dipengaruhi oleh keinginan individu, informasi yang diterima, dan lingkungannya. Sebagai seorang pengajar, guru harus memiliki sikap yang mengandung 3 komponen berikut.
1). Sikap yang terdapat pada komponen personal.
2). Sikap yang terdapat pada komponen professional.
3). Sikap yang terdapat pada komponen social.
            Berdasarkan komponen personal, seorang guru yang baik adalah guru yang mempunyai rasa human, yang secara garis besar memiliki nilai-nilai sebagai: seorang yang memiliki rasa sense of humor, berlaku jujur, bersikap tegas, bersikap demokratis, memperhatikan siswanya, dalam tindakannya bersikap terbuka, spntan, dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah. Sebaliknya seorang guru yang tidak baik memiliki nilai-nilai sebagai:  seorang yang tidak suka humor, mudah marah, memberikan jawaban yang tidak menyenangkan, dan bersikap otoriter.
            Adapun berdasarkan komponen profesinal, ciri-ciri guru yang baik yaitu:
1). Guru mampu menghubungkan materi dengan lingkungannya;
2). Bersikap dapat menyesuaikan dengan situasi;
3). Di dalam mengajar berritik tolak dari siswa;
4). Menggunakan cara memberi pertanyaan yang baik;
5). Berkemauan melakukan percobaan untuk mendapatkan sesuatu yang baru;
6). Dalam mengajar menunjukan gaya tersendiri;
7). Mempersiapkan ujian dengan baik;
8). Bersedia membantu belajar siswa;
9). Memancarkan sikap yang bersahabat;
            Guru yang baik menunjukan ciri-ciri diatas ditunjang oleh kemampuannya dalam hal-hal berikut:
1). Mengusai bidang baik dengan pengetahuan yang diajarkannya.
2). Membuat persiapan tertulis yang meliputi:
Ø  Peremusan tujuan pembelajaran;
Ø  Perencanaan pembelajaran;
Ø  Perencanaan penggunaan alat bantu;
Ø  Pemilihan materi pembelajaran;
Ø  Pemilihan dan penggunaan metode;
Ø  Penyusunan alat evaluasi;
Ø  Kerapian menulis dalam persiapan.
            3). Pelaksanaan mengajar yang meliputi:
Ø  Membuka dan menutup pelajaran;
Ø  Gaya dan antusiasme mengajar;
Ø  Penggunaan bahan ilustrasi dan contoh;
Ø  Pemberian motivasi;
Ø  Cara mengajukan pertanyaan;
Ø  Kualitas kejelasan yang diberikan;
Ø  Cara menjawab pertanyaan;
Ø  Perhatian terhadap individu siswa;
Ø  Pemberian tugas;
Ø  Disiplin kelas;
Ø  Kualitas interaksi pembelajaran;
Ø  Penggunaan alat peraga;
Ø  Kualitas tulisan di papan tulis.
      Komponen sosial yang dimiliki guru yang baik dalam membina interpersonal, antara lain:
1.       Kesadaran akan diri sendiri;
2.      Keterbukaan;
3.      Tidak pura-pura;
4.      Sikap menerima saja;
5.      Menghargai;
6.      Mau membantu;
7.      Sikap mau mengerti.
      Disampung sebagai pendidik, guru adalah warga masyarakat. Seorang guru diharapkan mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Pengertian dan pemahamannya terhadap lingkungn akan membuka jalan bagi seorang guru untuk mengetahui masalah yang timbul dan harus diatasinya.
      Pada dasarnya seorang guru yang baik adalah orang yang mau mengerti akan keadaan sekelilingnya. Sebagaia anggota masyarakat, seorang guru yang baik adalah seorang pribadi yang baik, sederhana dan jujur, menyukai kehidupan karena kedamain dalam jiwanya dan sebagai pribadi yang mudah bergaul dengan masyarakat di sekitrarnya.
1.      Ketepatan Bahasa
      Melalui Bahasa, apa yang dipikirkan seseorang dapat dikomunikasikan kepada orang lain. Dari Bahasa dapat tercermin pikiran sesorang. Bahasa sebagai alat komunikasi. Sebagai yang salah satu tugasnya adalah sebagai fasilator, meyediakan informasi yang dibutuhkan siswa, informasi tersebut akan diterima dengan baik kalua benar, jelas dan mudah dimengerti.
2.      Pengelolaan kelas
      Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dab sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu, juga hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses pembelajaran yang efektif.
      Kondisi pembelajaran yang memberikan kontribusi secara positif dapat berupa aspek-aspek berikut.
a.       Kondisi fisik
Lingkungan fisik tempat belajar, memberikan pengaruh yang besar tidak hanya pada hasil belajar saja, tetapi berdampak luas pada sikap yang dibentuk secara perlahan karena pengaruh lingkunagn tersebut. Lingkungan fisik yang berpengaruh antara lain: ruang kelas/laboratorium, halaman bermain, tempat duduk dan pengaturannya, ventilasi dan cahaya, dan penyimpanan barang-barang sarana pelayanan.
b.      Kondisi emosional
Kondisi emasioanl adalah kondisi yang berpengaruh terhadap terciptanya suasana emosional yang memberikan dorongan terhadap keinginan belajar dan evektivitas tercapainya tujuan. Kondisi emosional antara lain kepemimpinan guru, sikap guru, dan suara guru.
c.       Aspek administrasi
Administrasi yang teratur akan memperlancar dan memberikan andil yang positif untuk tercapainya tujuan belajar yang baik. Absensi, daftar nilai, catatan pribadi siswa yang dikelola secara teratur memberikan informasi untuk pencegahan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.




B.     Interaksi antara Guru dan siswa
      Secara umum, proses pembelajaran merupakan proses interaksi komunikasi aktif antara siswa dan guru dalam kegiatan pendidikan. Dalam proses pembelajaran, ada kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dan ada kegiatan mengajar yang dilakukan oleh guru, yang berlangsung secara bersama-sama sehingga terjadi interaksi komunikasi aktif antara guru dan siswa.
      Agar terjadi interaksi pemblajaran yang baik, ada beberapa komponen yang saling berkaitan dan saling membantu, serta merupakan satu kesatuan yang dapat menunjang proses pembelajaran tersebut. Komponen-komponen proses pembelajaran tersebut antara lain kompotensi pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, sumber/media pembelajaran, manajemen interaksi pembelajaran(pengelolaan kelas), penilaian pembelajaran, penddidk, dan pengembangan proses pembelajaran.
1.      Interaksi pembelajaran
      Pembelajaran merupakan kegiatan yang didominasi oleh interaksi antara guru dan siswa. Interaksi pembelajaran merupakan proses yang saling memengaruhi. Guru akan memengaruhi siswa dan sebaliknya siswa akan memengaruhi guru. Perilaku guru akan berbeda jika menghadapi kelas yang aktif dengan yang pasif, yang disiplin dan kurang disiplin. Interaksi ini bukan hanya terjadi antara siswa dengan guru, melainkan antara siswa dengan manusia sumber (orang yang dapat memeberikan informasi), antara siswa dengan siswa lain dan dengan media pembelajaran. Kegiatan mengajar selalu menuntut kehadiran siswa. Tanpa siswa dalam kelas, guru tidak dapat mengajar. Berbeda dengan belajar, kegiatan ini dapat dilakukan sendiri. Misalnya belajar di rumah atau di perpustakaan.
      Interaksi pembelajaran di sekolah perlu dipersiapkan secara benar dan terencana. Interaksi pembelajaran tidak harus dilakukan di dalam kelas, dapat juga dilakasanakan di laboratorium, bengkel kerja/keterampilan, lapangan olahraga, pentas kesenian, kebun, kolam dan lingkungan lainnya.
      Peranan siswa dan guru dalam interaksi pembelajaran ditentukan oleh strategi ataupun metode-metode pembelajaran yang digunakan. Dalam proses pembelajaran yang menggunakan strategi yang bersifat ekspositori, peranan lebih aktif dimainkan oleh guru. Guru yang menyiapkan seluruh bahan ajar dan guru pula yang menyampaikan seluruh bahan ajar tersebut kepada siswa. Lain halnya dalam pembelajaran yang mengaktifkan siswa (belajar discovery/inkuiri, pemecahan masalah, dan lain-lain), peranan siswa lebih besar.
      Interaksi pembelajaran yang terjadi secara langsung didalam kelas, mungkin diteruskan diluar kelas atau diluar sekolah, dalam bentuk interaksi secara tidak langsung. Guru dapat memberikan berbagai bentuk penugasan agar para siswa juga melakukan berbagai aktivitas belajar diluar sekolah. Kegiatan belajar sendiri diluar kelas/sekoah ini berfungsi memantapkan, memperdalam dan memperluas bahan ajar yang diberikan guru di kelas/di sekolah.

2.      Proses pembelajaran dalam perspektif siswa
      Bila ditinjau dari sudut siswa, pembelajaran merupakan belajar. Belajar merupakan serangkain upaya untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan dan sikap serta nilai siswa, baik kemampuan intelektual, social, afektif, maupun psikomotorik.
a.       Macam-macam keterampilan intelektual
Menurut Gagne(1970) ada delapan tipe keterampilan intelektual dalam belajar yang menunjukan suatu hierarki kecakapan atau keterampilan dari yang paling rendah atau sederhana sampai dengan yang paling tinggi atau kompleks dalam yaitu:
1). Signal learning atau belajar tanda-tanda;
2). Stimulasi respons learning atau belajar hubungan stimulasi respons;
3). Chaining learning atau belajar menguasi rangkain hal;
4). Verbal association learning atau belajar hubunagn verbal;
5). Discrimination learning atau belajar membedakan;
6). Concept learning atau belajar konsep-konsep;
7). Rule learning atau belajar aturan/hukum-hukum;
8). Problem solving learning atau belajar memecahkan masalah.
b.      Belajar di sekolah dan di luar sekolah
Kegiatan belajar di sekolah berada dibawah bimbingan dan pengawasan langsung dari guu. Jika para siswa menghadapi kesulitan, guru juga dapat secara langsung memberikan bantuan. Kegiatan di luar sekolah tidak mendapatkan bimbingan dan pengawan dari guru. Kegiatan ini dapat berlangsung di rumah, bimbingan belajar, ataupun perpustakaan umum.
c.       Belajar secara klasikal, kelompok, dan individual
Kegiatan belajar dapat berlangsung secara klasikal, kelompok, ataupun individual. Kegiatan-kegiatab belajar yang bersifat menerima atau menghafal pada umumnya diberikan secara klasikal. Umumnya kegiatan ini diberikan dalam bentuk ceramah. Belajar secara klasifikal cenderung menempatkan siswa dalam posisi pasif, sebagai penerima bahan ajaran. Upaya mengaktifkan siswa dapat dilakukan melalui metode tanya jawab, diskusi, demontrasi, eksperimen, dan lain-lain.
            Kegiatan belajar yang lebih mengaktifkan siswa berlangsung secara kelompok atau individual. Kegiatan diskusi, permainan, stimulasi percobaan, pemecahan masalah, dan sejenisnya dilakukan dalam bentuk kegiatan kelompok.
d.      Belajar teori dan praktik
Kegiatan belajar yang bersifat praktik umumnya dapat mengaktifkan siswa, bukan saja aktif  secara jasmaniah, melainkan pula secara ruhaniah. Belajar tidak hanya menerima, tetapi juga memberi atau berbuat; tidak menghafal, tetapi menangkap arti. Kegiatan praktik dapat berlangsung secara individual maupun kelompok. Hal yang perlu diperhatikan guru dalam belajar yang bersifat praktik adalah masalah penilain terhadap hasil belajar, tetapi juga harus diadakan sepanjang kegiatan praktik. Aspek yang dinilai bukan saja hasil belajar, melainkan pula proses belajar. Teknik penilaian yang paling cocok adalah pengamatan/observasi menggunak lembar observasi, daftar cerk, dan skala penilain.

3.      Proses pembelajaran dalam prespektif guru
      Dilihat dari sudut guru, proses pembelajaran berwujud dalam kegiatan mengajar. Secara sempit, mengajar dapat diartikan sebagai proses penyampain pengetahuan kepada siswa. Dalam pengertian yang lebih luas, mengajar mencakup segala kegiatan menciptakan situasi agar para siswa belajar. Pengertian belajar ini cukup luas, mencakup pula upaya guru mendorong siswa agar belajar, menata ruang atau tempat duduk siswa, mengelompokkan siswa, menciptakan berbagai kegiatan kelompok, memberikan berbagai bentuk tugas, membantu siswa-siswa yang lambat, memberikan pengayaan kepada siswa yang pandai atau tuntas.
      Kegiatan pembelajaran memang merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, sebab siswa melakukan kegiatan belajar karena guru mengajar, atau guru mengajar agar siswa belajar. Oleh karena keduanya merupakan suatu keterpaduan, pendekatan atau metode mengajar yang digunakan oleh guru menentukan kegiatan yang dilakukan oleh siswa.


                       





Bab IV
Penutup

A.    Kesimpulan
Didalam proses pembelajaran, seorang guru dikatakan baik apabila hasil pembelajaran yang dicapai sesuai dengan tujuan pendidikan. Dengan kata lain, seorang guru yang efektif adalah bila guru berhasil membawa anak didik menjadi manusia yang memiliki ketakwaan kepada Tuhan, memiliki kepribadian, mampu mengikuti perkembangan, terampil, dinamis, dan kreatif dengan tidak melepaskan diri dari dasar-dasar untuk kepentingan bangsa, negara, dan Tanah Air pada situasi apapun.
      Pembelajaran merupakan kegiatan yang didominasi oleh interaksi antara guru dan siswa. Interaksi pembelajaran merupakan proses yang saling memengaruhi. Guru akan memengaruhi siswadan sebaliknya siswa akan memengaruhi guru. Perilaku guru akan berbeda jika menghadapi kelas yang aktif dengan yang pasif, yang disiplin dan kurang disiplin. Interaksi ini bukan hanya terjadi antara siswa dengan guru, melainkan antara siswa dengan manusia sumber (orang yang dapat memeberikan informasi), antara siswa dengan siswa lain dan dengan media pembelajaran. Kegiatan mengajar selalu menuntut kehadiran siswa. Tanpa siswa dalam kelas, guru tidak dapat mengajar. Berbeda dengan belajar, kegiatan ini dapat dilakukan sendiri. Misalnya belajar di rumah atau di perpustakaan.

B.     Saran
Semoga dengan makalah ini, pembaca bisa mengetahui pentingnya pembelajaran yang baik dan untuk meningkatkan pendidikan dan kemampuan guru dalam mengajar. Sehingga pendidikan di Indonesia semakin lebih baik lagi. Kritik dan saran sangat kami harapakan demi menyempurnakan makalah ini.
Daftar Rujukan
Suprihatiningrum Jamil. 2013. Strategi Pembelajaran Teori dan Aplikasi. Jogjakarta. Ar-Ruzz Media.
Thobroni M. 2016. Belajar dan Pembelajaran Teori dan Praktik. Jogjakarta. Ar-Ruzz media.