campus
Rabu, 02 November 2016
Selasa, 18 Oktober 2016
Sikap Guru Terhadap Proses Pembelajaran
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Dalam
rangka meningkatkan kemampuan pendidik, mereka harus memiliki dasar empiris
yang kuat untuk mendukung profesi mereka sebagai pengajar. Kenyataan yang ada,
kurikulum yang selama ini diajarkan di sekolah menengah kurang mampu
mempersiapkan siswa untuk masuk ke perguruan tinggi. Kemudian kurangnya
pemahaman akan pentingnya relevansi pendidikan untuk mengatasi masalah-masalah
sosial dan budaya, serta bagaimana bentuk pengajaran untuk siswa dengan beragam
kemampuan intelektual.
Jerome S. Bruner, seorang
peneliti terkemuka, memberikan beberapa gambaran tentang perlunya teori
pembelajaran untuk mendukung proses pembelajaran di dalam kelas, serta beberapa
contoh praktis untuk dapat menjadi bekal persiapan profesionalitas para guru.
Berdasarkan
penelitian selama beberapa tahun terakhir, cukup jelas bagi saya (Jerome
S.Bruner), bahwa dari segi psikologis dan dari desain kurikulum itu sendiri,
sangatlah minim dibahas tentang teori pembelajaran. Teori pembelajaran yang
sudah ada selama ini, hanya terfokus pada kepentingan teoritis semata. Sebagai
contoh, pada saat membahas tentang teori perkembangan, seorang anak tidak
diajarkan pengaruhnya terhadap tantangan sosial dan bagaimana pengalaman nyata
yang nantinya akan dialami anak ketika berada di masyarakat. Masih banyak
contoh-contoh lain, bagaimana sebuah teori pembelajaran tidak menyentuh aspek
sosial dari murid, dan hal ini merupakan bentuk pembodohan secara intelektual
dan tidak memiliki tangung jawab moral.
Dari
permasalahan di atas, kita menyadari bahwa, sebuah teori pembelajaran sebaiknya
juga menyangkut suatu praktek untuk membimbing seseorang bagaimana caranya ia
memperoleh pengetahuan dan keterampilan, pandangan hidup, serta pengetahuan
akan kebudayaan masyarakat sekitarnya. Akan hal itu, mari kita susun beberapa
teorema yang memungkinkan, yang mungkin akan membawa kita kepada sebuah teori
pembelajaran yang baik.
Apa
yang dimaksud dengan teori pembelajaran? Penulis akan mencoba menguraikan
beberapa teorema untuk memisahkan apa yang dimaksud dengan teori pembelajaran
dari teori-teori yang sudah ada selama ini. Nature dari teori
pembelajaran adalah prescriptive, bukan deskriptif. Teori tersebut memiliki
tujuan untuk menghasilkan akhir yang luar biasa dan proses menghasilkannya
melalui cara yang kita sebut optimal. Itu bukan sebuah deskripsi tentang apa
yang terjadi saat proses belajar terjadi-itu adalah sesuatu yang normatif, yang
memberikan sesuatu yang mengena pada dirimu, dan pada akhirnya, harus
memberikan suatu catatan mengenai dirimu pada saat kamu memberikan pembelajaran
di dalam kelas.
Teori
belajar adalah teori yang mendeskripsikan apa yang sedang terjadi saat proses
belajar berlangsung dan kapan proses belajar tersebut berlangung. Tidak ada
batasan yang jelas, bagaimana seseorang yang mengandalkan teori belajar dapat
mengambil intisari yang tepat yang akan membimbing dia pada saat menyusun
kurikulum. Ketika saya mengatakan bahwa teori pembelajaran itu prescriptive,
yang saya maksud adalah suatu yang ada sebelum adanya fakta. Itu adalah sesuatu
yang ada sebelum proses belajar terjadi, bukan ketika, dan bukan setelahnya.
Teori
pembelajaran harus mampu menghubungkan antara hal yang ada sekarang dengan
bagaimana menghasilkan hal tersebut. Teori belajar menjelaskan dengan pasti apa
yang terjadi, namun teori pembelajaran ’hanya’ membimbing apa yang harus dilakukan
untuk menghasilkan hal tersebut.
Ada
4 hal yang terkait dengan teori pembelajaran:
1.
teori pembelajaran harus memperhatikan bahwa terdapat banyak kecenderungan cara
belajar siswa, dan kecenderungan ini sudah dimiliki siswa jauh sebelum ia masuk
ke sekolah.
2.
teori ini juga terkait dengan adanya struktur pengetahuan. Ada 3 hal yang
terkait dengan struktur pengetahuan:
a.
struktur pengetahuan harus mampu menyederhanakan suatu informasi yang sangat
luas
b.
struktur tersebut harus mampu membawa siswa kepada hal-hal yang baru, melebihi
informasi yang anda jelaskan
c.
struktur pengetahuan harus mampu meluaskan cakrawala berpikir siswa,
mengkombinasikannya dengan ilmu-ilmu lain.
3.
teori pembelajaran juga terkait dengan hubungan yang optimal. Seorang guru
harus mampu mencari hubungan yang mudah tentang sesuatu yang akan diajarkan
agar murid lebih mudah menangkap informasi tersebut.
4.
yang terakhir, teori pembelajaran terkait dengan penghargaan dan hukuman.
Berdasarkan
paparan umum diatas, pada bab II makalah ini akan dibahas tentang teori
Pembelajaran Perspektif.
B.
Rumusan masalah
1.
Kurangnya sikap baik Guru dalam pembelajaran.
2.
Kurangnya interaksi antara Guru dan siswa.
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui sikap baik guru dan pembelajaran.
2.
Untuk mengetahui interaksi antara guru dan siswa.
Bab II
Kajian Teori
A.
Pengertian Teori
Belajar dan Pembelajaran
Menurut W.H Burton
belajar adalan proses perubahan tingkah laku pada diri individu, sedangkan
menurut Skinner belajar adalah suatu perilaku yang memberikan respon yang baik
pada individu. Sehingga dapat disimpulkan belajar adalah segala perilaku yang
memberikan perubahan baik pada individu.
Menurut Winkel
Pembelajaran adalah seperangkat tindakan untuk mendukung proses belajar
individu, sedangkan menurut Gagne pembelajaran adalah pengaturan peristiwa yang
membuat belajar menjadi berhasil guna mendukung proses belajar. Sehingga dapat
disimpulkan pembelajaran adalah tindakan yang mendukung proses belajar.
Bruner mengemukakan
bahwa teori pembelajaran adalah preskriptif dan teori belajar adalah
deskriptif.Preskriptif karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan
metode pembelajaran yang optimal, dan deskriptif karena tujuan utama teori
belajar adalah memerikan proses belajar.
Teori belajar menaruh
perhatian pada hubungan di antara variabel-variabel yang menentukan hasil
belajar, atau bagaimana seseorang belajar.Teori pembelajaran menaruh perhatian
pada bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain agar terjadi hal belajar, atau
upaya mengontrol variabel-variabel yang dispesifikasi dalam teori belajar
agar dapat memudahkan belajar.
B.
Belajar Deskriptif dan Preskriptif
Ada beberapa pendapat
tentang teori belajar deskriptif dan preskriptif yaitu :
1.
Menurut Bruner
Teori pembelajaran
adalah preskriptif dan teori belajar adalah deskriptif. Preskriptif karena
tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang
optimal, sedangkan deskriptif karena tujuan utama teori belajar adalah
menjelaskan proses belajar.
2.
Menurut Reigeluth
Teori preskriptif adalah goal oriented, sedangkan teori deskriptif adalah goal
free. Maksudnya adalah bahwa teori pembelajaran preskriptif dimaksudkan untuk
mencapai tujuan, sedangkan teori pembelajaran deskriptif dimaksudkan untk
memberikan hasil.
Pembedaan teori belajar (deskriptif) dan pembelajaran (preskriptif)
dikembangkan oleh Bruner, lebih lanjut oleh Reigeluth (1983), Gropper (1983),
dan Landa (1983).
Menurut Reigeluth (Degeng, 1990) teori-teori dan prinsip pembelajaran yang deskriptif menempatkan variabel kondisi dan metode pembelajaran sebagai givens dan memberikan hasil pembelajaran sebagai variabel yang diamati. Dengan kata lain kondisi dan metode pembelajaran sebagai variabel bebas dan hasil pembelajaran sebagai variabel tergantung.
Menurut Reigeluth (Degeng, 1990) teori-teori dan prinsip pembelajaran yang deskriptif menempatkan variabel kondisi dan metode pembelajaran sebagai givens dan memberikan hasil pembelajaran sebagai variabel yang diamati. Dengan kata lain kondisi dan metode pembelajaran sebagai variabel bebas dan hasil pembelajaran sebagai variabel tergantung.
Sebaliknya dalam teori-teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang preskriptif
menempatkan kondisi dan hasil sebagai givens sedangkan metode yang optimal
ditetapkan sebagai variabel yang bisa diamati. Jadi metode pembelajaran
sebagai variabel tergantung. Menurut Reigeluth bahwa Teori preskriptif adalah
goal oriented, sedangkan teori deskriptif adalah goal free (Budiningsih, 2005:
11). Artinya teori pembelajaran preskriptif adalah untuk mencapai tujuan,
sedangkan teori pembelajaran deskriptif dimaksudkan untuk memerikan hasil.
Bruner (Budiningsih, 2005: 11) mengemukakan bahwa teori pembelajaran adalah
perspektif dan teori belajar adalah deskriptif. Perspektif karena tujuan utama
teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal,
sedangkan teori belajar bersifat deskritif karena tujuan utama teori belajar
adalah menjelaskan proses belajar. Teori belajar menaruh perhatian pada
hubungan aantara variable-variabel yang menentukan hasil belajar. Sedangkan
teori pembelajaran sebaliknya teori ini menaruh perhatian pada bagaimana
seseorang mempengaruhi orang lain agar terjadi proses belajar. Dengan kata lain
teori pembelajaran berurusan dengan upaya mengontrol variable yang
dispesifikasikan dalam teori belajar agar dapat memudahkan belajar.
Dengan kata lain, kondisi dan metode pembelajaran sebagai variable bebas dan
hasil pembelajaran sebagai variable tergantung.
Maksudnya adalah bahwa teori pembelajaran perspektif dimaksudkan untuk mencapai
tujuan, sedangkan teori belajar deskriptif dimaksudkan untuk memberikan hasil.
Itulah sebabnya variable yang diamati dalam mengembangkan teori belajar yang
perspektif adalah metode yang optimal untuk mencapai tujuan, sedangkan dalam
pengembangan teori pem,belajaran deskriptif, variable yang diamati adalah hasil
belajar sebagai akibat dari interaksi antara metode dan kondisi. Dengan kata
lain teori pembelajaran mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran
dengan proses psikologis dalam diri siswa, sedangkan teori belajar
mengungkapkan hubungan antara kegiatan siswa dengan proses psikologi dalam diri
siswa.
Teori pembelajaran harus memasukkan variable metode pembelajaran. Bila
tidak, maka teori itu bukanlah teori pembelajaran. Hal ini penting sebab banyak
yang terjadi apa yang dianggap sebagai teori pembelajaran yang sebenarnya
adalah teori belajar. Teori pembelajaran selalu menyebutkan metode pembelajaran
sedangkan teori belajar sama sekali tidak berurusan dengan metode pembelajaran.
Sehingga dapat kita simpulkan beberapa poin
tentang teori deskriptif dan preskriptif yaitu:
1.) Teori belajar adalah deskriptif karena tujuan utamanya
menjelaskan proses belajar, sedangkan teori pembelajaran adalah preskriptif
karena tujuan utamanya menetapkan metode pembelajaran yang optimal
2.) Teori pembelajaran preskriptif dimaksudkan untuk mencapai
tujuan, sedangkan teori pembelajaran deskriptif dimaksudkan untuk memberikan
hasil. itulah sebabnya, variabel yang diamati dalam teori-teori pembelajaran
yang preskriptif adalah metode yang optimal untuk mencapai tujuan
3.) Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan diantara
variabel-variabel yang menentukan hasil belajar, atau bagaimana seseorang
belajar.
4.) Teori pembelajaran menaruh perhatian pada
bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain agar terjadi hal belajar, atau
upaya mengontrol variabel-variabel yang dispesifikasi dalam teori belajar agar
dapat memudahkan belajar
5.) Teori perspektif adalah goal
oriented (untuk mencapai tujuan), sedangkan teori deskriptif goal
free (untuk memerikan hasil).
C.
Perbedaan Teori Deskriptif dan Preskriptif
Asri Budiningsih
(2004) dalam buku Belajar dan Pembelajaran menjelaskan bahwa upaya dari Bruner
untuk membedakan antara teori belajar yang deskriptif dan teori pembelajaran
yang perspektif dikembangkan lebih lanjut oleh Reigeluth.teori dan
prinsip-prinsip pembelajaran yang deskriptif menempatkan variable kondisi dan
metode pembelajaran sebagai givens dan menempatkan hasil belajar sebagai
varibael yang diamati. Dengan kata lain, kondisi dan metode pembelajaran sebagai
variable bebas dan hasil pembelajaran sebagai variable tergantung.
Reigeluth (1983 dalam degeng ,1990)
mengemukakan bahwa teori perspektif adalah goal oriented sedangkan teori
deskriptif adalah goal free. Maksudnya adalah bahwa teori pembelajaran perspektif
dimaksudkan untuk mencapai tujuan, sedangkan teori belajar deskriptif
dimaksudkan untuk memberikan hasil. Itulah sebabnya variable yang diamati dalam
mengembangkan teori belajar yang perspektif adalah metode yang optimal untuk
mencapai tujuan, sedangkan dalam pengembangan teori pem,belajaran deskriptif,
variable yang diamati adalah hasil belajar sebagai akibat dari interaksi antara
metode dan kondisi.
Dengan kata lain teori
pembelajaran mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan proses
psikologis dalam diri siswa, sedangkan teori belajar mengungkapkan hubungan
antara kegiatan siswa dengan proses psikologis dalam diri siswa.
Teori pembelajaran
harus memasukkan variable metode pembelajaran. Bila tidak, maka teori itu
bukanlah teori pembelajaran. Hal ini penting sebab banyak yang terjadi apa yang
dianggap sebagai teori pembelajaran yang sebenarnya adalah teori belajar. Teori
pembelajaran selalu menyebutkan metode pembelajaran sedangkan teori belajar
sama sekali tidak berurusan dengan metode pembelajaran.
Perbedaan teori
deskriptif dan teori preskriptif di atas membawa konsukuensi pada perbedaan
proporsisi untuk kedua teori tersebut.
Proporsisi untuk
perbandingan teori tersebut contohnya adalah:
Teori deskriptif:
Bila
isi/materi pelajaran (kondisi) diorganisasi dengan menggunakan metode elaborasi
(metode), maka perolehan belajar dan retensi (hasil) akan meningkat.
Jika
membuat rangkuman tentang isi buku teks yang dibaca, maka retensi terhadap isi
buku teks itu akan lebih baik.
Teori preskriptif:
Agar
perolehan belajar dan retensi (hasil) meningkat, organisasilah isi/materi
pelajaran (kondisi) dengan menggunakan model elaborasi (metode).
Agar
dapat mengingat isi buku teks yang dibaca secara lebih baik, maka bacalah isi
buku teks itu berulang-ulang dan buatlah rangkumannya.
Kelebihan, Kekurangan Teori
Deskriptif dan preskriptif
1.Kelebihan dari teori belejar
deskriptif adalah lebih terkonsep sehingga siswa lebih
memahami materi yang
akan disampaikan. mendorong siswa untuk mencari sumber pengetahuan
sebanyak-banyaknya dalam mengerjakan suatu tugas.
2. Kelebihan dari
teori preskriptif yaitu lebih sistematis sehingga memiliki arah dan tujuan yang
jelas. banyak member motivasi agar terjadi proses belajar. mengoptimalisasikan
kerja otak secara maksimal.
3. Kekurangan untuk
teori deskriptif adalah kurang memperhatikan sisi psikologis siswa dalam
mendalami suatu materi.
4. Kekuranagan dari
teori balajar preskriptif yaitu membutuhkan waktu cukup lama.
D.
Penerapan Teori Belajar Deskriptif dan Preskriptif
Bruner mengemukakan bahwa teori belajar adalah deskriptif karena tujuan
utamanya menjelaskan proses belajar dan
teori belajar menaruh perhatian
pada hubungan di antara variabel-variabel yang menentukan hasil belajar. Sedangkan teori pembelajaran
adalah preskriptif karenatujuan utamanya menetapkan
metode pembelajaran yang optimal dan teori pembelajaran menaruh
perhatian bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain agar terjadi proses
belajar.
Bab III
Pembahasan
A.
Sikap baik Guru dalam
pembelajaran
Telah
kita ketahui bahwa preoses pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai factor.
Factor guru, kurikulum, tujuan yang ingin dicapai, sarana, lingkungan, dan
siswa itu sendiri. Dari sekian banyak factor ini, factor guru mempunyai peranan
yang lebih menentukan daripada factor yang lain tanpa mengurangi factor kondisi
siswa yang dihadapi.
Disamping perencanaan guru yang memadai untuk
peleksanaan pembelajaran, keberhasilan pembelajaran dipengaruhi oleh sikap guru
dalam mengelola pembelajaran, keterampilan guru mengajukan pertanyaan,
pengetahuan guru dan keterampilannya dalam menggunakan media, dan masih banyak
factor pendukung lain yang dapat mendorong terjadinya proses belajar yang lebih
baik.
1. Sikap guru dalam
pembelajaran
Didalam
proses pembelajaran, seorang guru dikatakan baik apabila hasil pembelajaran
yang dicapai sesuai dengan tujuan pendidikan. Dengan kata lain, seorang guru
yang efektif adalah bila guru berhasil membawa anak didik menjadi manusia yang
memiliki ketakwaan kepada Tuhan, memiliki kepribadian, mampu mengikuti
perkembangan, terampil, dinamis, dan kreatif dengan tidak melepaskan diri dari
dasar-dasar untuk kepentingan bangsa, negara, dan Tanah Air pada situasi
apapun.
Guru
yang baik memiliki sikap yang baik yang dapat digunakan sebagai contoh, sebagai
model bagi para siswa yang dihadapinya.
a. Sikap ilmiah dan
pengembangannya
Salah satu masalah jika kita
membahas soal sikap adalah dalam menentukan terminalogi yang digunakan, karena
para ahli yang berlatar belakang berbeda memiliki pengetahuan berbeda. Beberapa
pengertian sikap diantaranya:
1). Kecendrungan
menyenangi atau sebaliknya membenci suatu objek tertentu;
2). Besarnya respons;
3). Ide yang
dikendalikan oleh emosi
Ditilik dari berbagai defenisi
tersebut diatas, sikap tersebut mengandung komponen pengetahuan (kognitif),
perasaan (afektif), dan kecendrungan berbuat (konatif). Ketiga komponen
tersebut terikat satu sama lain. Ada sikap yang lebih didominasi oleh komponen
kognitif.
Perkembangan sikap seseorang
dipengaruhi oleh keinginan individu, informasi yang diterima, dan
lingkungannya. Sebagai seorang pengajar, guru harus memiliki sikap yang
mengandung 3 komponen berikut.
1). Sikap yang
terdapat pada komponen personal.
2). Sikap yang
terdapat pada komponen professional.
3). Sikap yang
terdapat pada komponen social.
Berdasarkan komponen personal,
seorang guru yang baik adalah guru yang mempunyai rasa human, yang secara garis
besar memiliki nilai-nilai sebagai: seorang yang memiliki rasa sense of humor,
berlaku jujur, bersikap tegas, bersikap demokratis, memperhatikan siswanya,
dalam tindakannya bersikap terbuka, spntan, dan mudah menyesuaikan diri dengan
keadaan yang selalu berubah. Sebaliknya seorang guru yang tidak baik memiliki
nilai-nilai sebagai: seorang yang tidak
suka humor, mudah marah, memberikan jawaban yang tidak menyenangkan, dan
bersikap otoriter.
Adapun berdasarkan komponen
profesinal, ciri-ciri guru yang baik yaitu:
1). Guru mampu
menghubungkan materi dengan lingkungannya;
2). Bersikap dapat
menyesuaikan dengan situasi;
3). Di dalam mengajar
berritik tolak dari siswa;
4). Menggunakan cara
memberi pertanyaan yang baik;
5). Berkemauan
melakukan percobaan untuk mendapatkan sesuatu yang baru;
6). Dalam mengajar
menunjukan gaya tersendiri;
7). Mempersiapkan
ujian dengan baik;
8). Bersedia membantu
belajar siswa;
9). Memancarkan sikap
yang bersahabat;
Guru yang baik menunjukan ciri-ciri
diatas ditunjang oleh kemampuannya dalam hal-hal berikut:
1). Mengusai bidang
baik dengan pengetahuan yang diajarkannya.
2). Membuat persiapan
tertulis yang meliputi:
Ø Peremusan tujuan
pembelajaran;
Ø Perencanaan
pembelajaran;
Ø Perencanaan penggunaan
alat bantu;
Ø Pemilihan materi
pembelajaran;
Ø Pemilihan dan
penggunaan metode;
Ø Penyusunan alat
evaluasi;
Ø Kerapian menulis dalam
persiapan.
3).
Pelaksanaan mengajar yang meliputi:
Ø Membuka dan menutup
pelajaran;
Ø Gaya dan antusiasme
mengajar;
Ø Penggunaan bahan
ilustrasi dan contoh;
Ø Pemberian motivasi;
Ø Cara mengajukan
pertanyaan;
Ø Kualitas kejelasan
yang diberikan;
Ø Cara menjawab
pertanyaan;
Ø Perhatian terhadap
individu siswa;
Ø Pemberian tugas;
Ø Disiplin kelas;
Ø Kualitas interaksi
pembelajaran;
Ø Penggunaan alat
peraga;
Ø Kualitas tulisan di
papan tulis.
Komponen
sosial yang dimiliki guru yang baik dalam membina interpersonal, antara lain:
1.
Kesadaran akan diri
sendiri;
2.
Keterbukaan;
3.
Tidak pura-pura;
4.
Sikap menerima saja;
5.
Menghargai;
6.
Mau membantu;
7.
Sikap mau mengerti.
Disampung
sebagai pendidik, guru adalah warga masyarakat. Seorang guru diharapkan mampu
beradaptasi dengan lingkungannya. Pengertian dan pemahamannya terhadap
lingkungn akan membuka jalan bagi seorang guru untuk mengetahui masalah yang
timbul dan harus diatasinya.
Pada
dasarnya seorang guru yang baik adalah orang yang mau mengerti akan keadaan
sekelilingnya. Sebagaia anggota masyarakat, seorang guru yang baik adalah
seorang pribadi yang baik, sederhana dan jujur, menyukai kehidupan karena
kedamain dalam jiwanya dan sebagai pribadi yang mudah bergaul dengan masyarakat
di sekitrarnya.
1.
Ketepatan Bahasa
Melalui
Bahasa, apa yang dipikirkan seseorang dapat dikomunikasikan kepada orang lain.
Dari Bahasa dapat tercermin pikiran sesorang. Bahasa sebagai alat komunikasi.
Sebagai yang salah satu tugasnya adalah sebagai fasilator, meyediakan informasi
yang dibutuhkan siswa, informasi tersebut akan diterima dengan baik kalua
benar, jelas dan mudah dimengerti.
2.
Pengelolaan kelas
Suatu
kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dab
sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu, juga hubungan interpersonal yang baik
antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa merupakan syarat keberhasilan
pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak
bagi terjadinya proses pembelajaran yang efektif.
Kondisi
pembelajaran yang memberikan kontribusi secara positif dapat berupa aspek-aspek
berikut.
a. Kondisi fisik
Lingkungan fisik
tempat belajar, memberikan pengaruh yang besar tidak hanya pada hasil belajar
saja, tetapi berdampak luas pada sikap yang dibentuk secara perlahan karena
pengaruh lingkunagn tersebut. Lingkungan fisik yang berpengaruh antara lain:
ruang kelas/laboratorium, halaman bermain, tempat duduk dan pengaturannya,
ventilasi dan cahaya, dan penyimpanan barang-barang sarana pelayanan.
b. Kondisi emosional
Kondisi emasioanl
adalah kondisi yang berpengaruh terhadap terciptanya suasana emosional yang
memberikan dorongan terhadap keinginan belajar dan evektivitas tercapainya
tujuan. Kondisi emosional antara lain kepemimpinan guru, sikap guru, dan suara
guru.
c. Aspek administrasi
Administrasi yang
teratur akan memperlancar dan memberikan andil yang positif untuk tercapainya
tujuan belajar yang baik. Absensi, daftar nilai, catatan pribadi siswa yang
dikelola secara teratur memberikan informasi untuk pencegahan terjadinya
hal-hal yang tidak diinginkan.
B.
Interaksi antara Guru
dan siswa
Secara
umum, proses pembelajaran merupakan proses interaksi komunikasi aktif antara
siswa dan guru dalam kegiatan pendidikan. Dalam proses pembelajaran, ada
kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dan ada kegiatan mengajar yang
dilakukan oleh guru, yang berlangsung secara bersama-sama sehingga terjadi
interaksi komunikasi aktif antara guru dan siswa.
Agar
terjadi interaksi pemblajaran yang baik, ada beberapa komponen yang saling
berkaitan dan saling membantu, serta merupakan satu kesatuan yang dapat
menunjang proses pembelajaran tersebut. Komponen-komponen proses pembelajaran
tersebut antara lain kompotensi pembelajaran, materi pembelajaran, metode
pembelajaran, sumber/media pembelajaran, manajemen interaksi
pembelajaran(pengelolaan kelas), penilaian pembelajaran, penddidk, dan
pengembangan proses pembelajaran.
1.
Interaksi pembelajaran
Pembelajaran
merupakan kegiatan yang didominasi oleh interaksi antara guru dan siswa.
Interaksi pembelajaran merupakan proses yang saling memengaruhi. Guru akan memengaruhi
siswa dan sebaliknya siswa akan memengaruhi guru. Perilaku guru akan berbeda
jika menghadapi kelas yang aktif dengan yang pasif, yang disiplin dan kurang
disiplin. Interaksi ini bukan hanya terjadi antara siswa dengan guru, melainkan
antara siswa dengan manusia sumber (orang yang dapat memeberikan informasi),
antara siswa dengan siswa lain dan dengan media pembelajaran. Kegiatan mengajar
selalu menuntut kehadiran siswa. Tanpa siswa dalam kelas, guru tidak dapat
mengajar. Berbeda dengan belajar, kegiatan ini dapat dilakukan sendiri.
Misalnya belajar di rumah atau di perpustakaan.
Interaksi
pembelajaran di sekolah perlu dipersiapkan secara benar dan terencana.
Interaksi pembelajaran tidak harus dilakukan di dalam kelas, dapat juga
dilakasanakan di laboratorium, bengkel kerja/keterampilan, lapangan olahraga,
pentas kesenian, kebun, kolam dan lingkungan lainnya.
Peranan
siswa dan guru dalam interaksi pembelajaran ditentukan oleh strategi ataupun
metode-metode pembelajaran yang digunakan. Dalam proses pembelajaran yang
menggunakan strategi yang bersifat ekspositori, peranan lebih aktif dimainkan
oleh guru. Guru yang menyiapkan seluruh bahan ajar dan guru pula yang
menyampaikan seluruh bahan ajar tersebut kepada siswa. Lain halnya dalam
pembelajaran yang mengaktifkan siswa (belajar discovery/inkuiri, pemecahan
masalah, dan lain-lain), peranan siswa lebih besar.
Interaksi
pembelajaran yang terjadi secara langsung didalam kelas, mungkin diteruskan diluar
kelas atau diluar sekolah, dalam bentuk interaksi secara tidak langsung. Guru
dapat memberikan berbagai bentuk penugasan agar para siswa juga melakukan
berbagai aktivitas belajar diluar sekolah. Kegiatan belajar sendiri diluar
kelas/sekoah ini berfungsi memantapkan, memperdalam dan memperluas bahan ajar
yang diberikan guru di kelas/di sekolah.
2.
Proses pembelajaran dalam perspektif siswa
Bila
ditinjau dari sudut siswa, pembelajaran merupakan belajar. Belajar merupakan
serangkain upaya untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan dan sikap serta nilai
siswa, baik kemampuan intelektual, social, afektif, maupun psikomotorik.
a.
Macam-macam keterampilan intelektual
Menurut Gagne(1970) ada delapan tipe keterampilan intelektual
dalam belajar yang menunjukan suatu hierarki kecakapan atau keterampilan dari
yang paling rendah atau sederhana sampai dengan yang paling tinggi atau
kompleks dalam yaitu:
1). Signal learning atau belajar tanda-tanda;
2). Stimulasi respons learning atau belajar hubungan stimulasi
respons;
3). Chaining learning atau belajar menguasi rangkain hal;
4). Verbal association learning atau belajar hubunagn verbal;
5). Discrimination learning atau belajar membedakan;
6). Concept learning atau belajar konsep-konsep;
7). Rule learning atau belajar aturan/hukum-hukum;
8). Problem solving learning atau belajar memecahkan masalah.
b.
Belajar di sekolah dan di luar sekolah
Kegiatan belajar di sekolah berada dibawah bimbingan dan
pengawasan langsung dari guu. Jika para siswa menghadapi kesulitan, guru juga
dapat secara langsung memberikan bantuan. Kegiatan di luar sekolah tidak
mendapatkan bimbingan dan pengawan dari guru. Kegiatan ini dapat berlangsung di
rumah, bimbingan belajar, ataupun perpustakaan umum.
c.
Belajar secara klasikal, kelompok, dan individual
Kegiatan belajar dapat berlangsung secara klasikal, kelompok,
ataupun individual. Kegiatan-kegiatab belajar yang bersifat menerima atau
menghafal pada umumnya diberikan secara klasikal. Umumnya kegiatan ini
diberikan dalam bentuk ceramah. Belajar secara klasifikal cenderung menempatkan
siswa dalam posisi pasif, sebagai penerima bahan ajaran. Upaya mengaktifkan
siswa dapat dilakukan melalui metode tanya jawab, diskusi, demontrasi, eksperimen,
dan lain-lain.
Kegiatan
belajar yang lebih mengaktifkan siswa berlangsung secara kelompok atau
individual. Kegiatan diskusi, permainan, stimulasi percobaan, pemecahan
masalah, dan sejenisnya dilakukan dalam bentuk kegiatan kelompok.
d.
Belajar teori dan praktik
Kegiatan belajar yang bersifat praktik umumnya dapat
mengaktifkan siswa, bukan saja aktif
secara jasmaniah, melainkan pula secara ruhaniah. Belajar tidak hanya
menerima, tetapi juga memberi atau berbuat; tidak menghafal, tetapi menangkap
arti. Kegiatan praktik dapat berlangsung secara individual maupun kelompok. Hal
yang perlu diperhatikan guru dalam belajar yang bersifat praktik adalah masalah
penilain terhadap hasil belajar, tetapi juga harus diadakan sepanjang kegiatan
praktik. Aspek yang dinilai bukan saja hasil belajar, melainkan pula proses
belajar. Teknik penilaian yang paling cocok adalah pengamatan/observasi
menggunak lembar observasi, daftar cerk, dan skala penilain.
3.
Proses pembelajaran dalam prespektif guru
Dilihat
dari sudut guru, proses pembelajaran berwujud dalam kegiatan mengajar. Secara
sempit, mengajar dapat diartikan sebagai proses penyampain pengetahuan kepada
siswa. Dalam pengertian yang lebih luas, mengajar mencakup segala kegiatan
menciptakan situasi agar para siswa belajar. Pengertian belajar ini cukup luas,
mencakup pula upaya guru mendorong siswa agar belajar, menata ruang atau tempat
duduk siswa, mengelompokkan siswa, menciptakan berbagai kegiatan kelompok,
memberikan berbagai bentuk tugas, membantu siswa-siswa yang lambat, memberikan
pengayaan kepada siswa yang pandai atau tuntas.
Kegiatan
pembelajaran memang merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, sebab siswa
melakukan kegiatan belajar karena guru mengajar, atau guru mengajar agar siswa
belajar. Oleh karena keduanya merupakan suatu keterpaduan, pendekatan atau
metode mengajar yang digunakan oleh guru menentukan kegiatan yang dilakukan
oleh siswa.
Bab IV
Penutup
A. Kesimpulan
Didalam proses
pembelajaran, seorang guru dikatakan baik apabila hasil pembelajaran yang
dicapai sesuai dengan tujuan pendidikan. Dengan kata lain, seorang guru yang
efektif adalah bila guru berhasil membawa anak didik menjadi manusia yang
memiliki ketakwaan kepada Tuhan, memiliki kepribadian, mampu mengikuti
perkembangan, terampil, dinamis, dan kreatif dengan tidak melepaskan diri dari
dasar-dasar untuk kepentingan bangsa, negara, dan Tanah Air pada situasi
apapun.
Pembelajaran
merupakan kegiatan yang didominasi oleh interaksi antara guru dan siswa.
Interaksi pembelajaran merupakan proses yang saling memengaruhi. Guru akan
memengaruhi siswadan sebaliknya siswa akan memengaruhi guru. Perilaku guru akan
berbeda jika menghadapi kelas yang aktif dengan yang pasif, yang disiplin dan
kurang disiplin. Interaksi ini bukan hanya terjadi antara siswa dengan guru,
melainkan antara siswa dengan manusia sumber (orang yang dapat memeberikan
informasi), antara siswa dengan siswa lain dan dengan media pembelajaran.
Kegiatan mengajar selalu menuntut kehadiran siswa. Tanpa siswa dalam kelas,
guru tidak dapat mengajar. Berbeda dengan belajar, kegiatan ini dapat dilakukan
sendiri. Misalnya belajar di rumah atau di perpustakaan.
B.
Saran
Semoga
dengan makalah ini, pembaca bisa mengetahui pentingnya pembelajaran yang baik
dan untuk meningkatkan pendidikan dan kemampuan guru dalam mengajar. Sehingga
pendidikan di Indonesia semakin lebih baik lagi. Kritik dan saran sangat kami
harapakan demi menyempurnakan makalah ini.
Daftar Rujukan
Suprihatiningrum Jamil.
2013. Strategi Pembelajaran Teori dan Aplikasi. Jogjakarta. Ar-Ruzz Media.
Thobroni M. 2016. Belajar
dan Pembelajaran Teori dan Praktik. Jogjakarta. Ar-Ruzz media.
Langganan:
Komentar (Atom)
